Jumat, 31 Desember 2010

perilaku 'one nigt stand' dipengaruhi oleh gen

Perilaku one
night stand atau cinta satu
malam ternyata dipengaruhi
oleh gen. Gen itulah yang
membuat seseorang berani
bertindak dan mengambil
risiko melakukan one night
stand.
Ahli ilmu biologi evolusioner dari State
University of New York, Justin Garcia
mendapati kalau gen DRD4 adalah biang
keladi mengapa seseorang hobi melakukan
one night stand. Gen ini berpengaruh
terhadap salah satu sel kimia otak, yakni
dopamine.
Dopamine sendiri berperan memberi
kenikmatan dan memberi motivasi kepada
seseorang. Termasuk memberi motivasi
dan kesenangan untuk melakukan one
night stand.
Setidaknya ada tiga elemen yang
dikeluarkan dopamin yang bekerja pada
gen DRD4 yaitu berani mengambil risiko
tinggi, adanya kesenangan yang didapat,
dan motivasi penghargaan lainnya.
Justin mencurigai DRD4 bukan tanpa alasan.
Lewat penelitian yang melibatkan 180 pria
dan wanita, ditemukan kalau orang yang
memiliki gen DRD4 lebih senang untuk
melakukan cinta satu malam alias
cenderung tidak setia.
“Dengan demikian bisa dijelaskan mengapa
tak semua orang suka melakukan one night
stand. Sebab perilaku ini memang
dipengaruhi oleh gen. Jadi tak semua orang
suka dengan hal ini, ” ucap Justin seperti
dikutip dari situs Time.
Meski demikian Justin tidak menuding
semua orang yang memiliki gen DRD4
adalah tukang selingkuh atau pecinta one
night stand.
“Gen DRD4 memang berpengaruh. Tapi
lingkungan juga turut andil membuat
seseorang jadi tukang selingkuh, ” imbuh
Justin. (mic)

Selasa, 28 Desember 2010

upacara buang sial malah buat sial

Di bulan Februari 1657, sebuah upacara kecil
dilakukan di kota Tokyo, untuk menolak bala.
Dalam upacara kecil itu, seorang Pendeta
bermaksud membakar sebuah Kimono, yang
dianggap membawa sial. Kimono
tersebut telah dimiliki oleh 3 orang anak
perempuan yang semuanya meninggal
sebelum sempat mengenakannya.
Upacara ini tidak akan tercatat dalam sejarah,
bila tidak ada buntutnya. Saat Kimono tersebut
dibakar, angin kencang berhembus dan api
menyebar ikut melahap kuil tempat upacara
dilakukan. Tidak berhenti disitu, api ikut
menghancurkan hampir tiga perempat (75%)
bagian kota Tokyo.Tercatat 300 kuil ikut
terbakar, ditambah 500 bangunan besar,
9.000 toko, dan 61 jembatan. Korban yang
jatuh dalam kebakaran tersebut mencapai
sekitar 100.000 orang. Semua karena Kimono
pembawa sial...

Minggu, 26 Desember 2010

tak lakukan seks pra nikah baik untuk menjaga mental

Di zaman
modern
seperti
sekarang ini,
melakukan
hubungan
seksual
pranikah
sepertinya
sudah
menjadi hal
yang biasa. Namun terlepas dari urusan
agama, menunda hubungan seks dan tidak
melakukannya sebelum menikah bisa lebih
bermanfaat untuk kesehatan mental dan
kepuasaan seksual.
Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan peneliti dari Brigham Young
University's School of Family Life. Penelitian
ini melibatkan 2.035 orang menikah.
Dalam penelitian tersebut peneliti melakukan
kuesioner yang luas dan mencakup
pertanyaan tentang waktu partisipan mulai
melakukan hubungan seksual dan
bagaimana dengan tingkat kepuasaan serta
kebahagian jiwa yang dirasakan pasangan
tersebut.
Dari analisis statistik menunnjukkan bahwa
lebih banyak manfaat kesehatan mental atau
kepuasaan seksual yang dirasakan oleh
pasangan yang menunda hubungan seksual
sampai adanya ikatan pernikahan.
Dilansir Medindia, Minggu (26/12/2010),
berikut hasil analisis statistik yang
menunjukkan manfaat menunda hubungan
seksual hingga pernikahan:
Stabilitas hubungan dinilai 22 persen lebih
tinggi
Kepuasan hubungan dinilai 20 persen lebih
tinggi
Kualitas hubungan seksual dinilai 15 persen
lebih tinggi
Komunikasi dinilai 15 persen lebih baik
"Sebagian besar penelitian mengenai topik
ini difokuskan pada pengalaman individu
partisipan. Dan kebanyakan pasangan yang
menunda hubungan seksual hingga
pernikahan merasa lebih bahagia dan puas
dalam menjalani hubungan seksual," kata
penulis utama, Dean Busby, profesor di
Brigham Young University School of Family
Life, Utah.
Menurut Busby, perbedaan tingkat kepuasan
dan kebahagiaan pasangan yang menunda
hubungan seksual hingga pernikahan ini
adalah karena mereka mampu menjalin
komunikasi dengan baik dan belajar
menghadapi permasalahan yang ada
sebelum memutuskan untuk menikah dan
berhubungan seks.
"Terlepas dari religiusitas, menunggu (untuk
tidak berhubungan seks pranikah)dapat
membantu proses komunikasi hubungan
yang lebih baik dan ini membantu
meningkatkan stabilitas jangka panjang dan
kepuasan hubungan," kata Busby.
Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam
American Psychological Association's Journal
of Family Psychology.

Selasa, 14 Desember 2010

Serahkan Semua Pada yang Di Atas

Pada suatu hari Si Salim disuruh
emaknya mengambil mangga di
kebun. Sedang asik-asiknya Si Salim
mengambil mangga, tiba-tiba di
bawah dia melihat sepasang remaja
sedang making love.

Berdirilah bulu
roma Si Salim. Entah kenapa dia
tetap bertahan di atas pohon
sambil menahan lututnya yang mulai
gemetar. Selang 10 menit
didengarnya suara isak tangis
remaja perempuan itu, sambil
tersendat-sendat dia bicara.

Mas bagaimana kalau saya hamil
nanti? Mas harus mau
bertanggungjawab ”

Sudahlah dik, kita serahkan semua
ini pada yang di Atas ” jawab si lelaki.

Si Salim terperanjat lalu dia
berteriak, “Enak aja menyerahkan
semuanya padaku… aku kan cuma
ambil mangga!